Majid disunat

Sabtu kemaren, tgl 28 Juni 2008, Majid disunat. Memang sudah direncanakan dari jauh-jauh hari, sebelum masuk SD, Majid harus disunat dulu. Biar apa? ya… biar kewajibanku mengkhitankan anak cepat tunai aja kali ya… kebetulan Majidnya juga udah mau. Mungkin dari hasil berdiskusi dengan teman-temannya yang sudah disunat, Majid minta disunatnya pake laser, dia bilang gak sakit n cepet sembuh.

Karena musim liburan anak sekolah = musim sunat, maka di kecamatan tempat kami tinggalpun diadakanlah sunatan massal. Wah, kebetulan sekali… sunatan massal tea, udah gratis, biasanya dapet hadiah pula, bisa sekalian nyunatin malik juga dong! :p Sayangnya neneknya gak setuju. Kayak yang gak mampu aja nyunatin anak sendiri! gitu katanya… he he… namanya juga usaha…

Akhirnya, setelah menyesuaikan jadwal liburan dengan jadwal kerja yang amit-amit padatnya, ditentukanlah tanggal 28 Juni 2008, hari sabtu, jam 7.30 di RS. Al Islam Bandung, sebagai tanggal, hari, dan tempat Majid disunat. Kenapa di Bandung? biar ada yang merawat… maklum, ibunya wanita karir… :(

Hari H, jam J, kami sudah siap di tempat eksekusi, Majid dengan percaya diri masuk ke ruang tindakan hanya berdua saja dengan dokter. Wah, lega rasanya, melihat anak yang hendak berurusan dengan “kelelakiannya” ternyata anakku jagoan!. Kebetulan ayahnya sedang mengurus masalah administrasi, sedangkan aku sengaja tidak mau ikut masuk ke dalam karena tidak tega. Sampai akhirnya aku mendengar suara tangisan dan teriakan Majid!!

Terpaksa, aku menghambur ke dalam ruang tindakan yang memang tidak terkunci, di sana… ah, gak tega deh! Saat itulah sepertinya aku baru bisa mengakui bahwa laki-laki itu memang jagoan… apalagi hal itu dilakukan pada masa kanak-kanak. Hii ngilu aku ngeliatnya… walau memang masih ga ada apa-apanya kalo dibandingkan dengan melahirkan.

Selesai “eksekusi” Majid keluar dengan pakaian lengkap, pakek celana, dan jalan kaki. Hebat!! Anak siapa dulu dong!! Tapi tidak lama dari situ, Majid memegang tanganku dan bilang: sakit Ma!! dan tak lama kemudian dia teriak-teriak kesakitan, rupanya baalnya cuma sebentar, dan baru baal lagi setelah diminumkan obat! Aduuh… kasian banget, sampai di rumah pun masih teriak-teriak. Entah benar2 sakit, entah sekedar manja, soalnya, begitu disodori stik PS 2, teriakannya berhenti, terus maen deh ga berhenti-berhenti…

Seperti anak-anak yg disunat lainnya, majid juga dapet amplop loh… dari keluarga dan tetangga-tetangga. Setelah dikumpul-kumpul, jumlah isinya lumayan banyak… Majid seneng banget… “aku kaya!” katanya. Waktu ditanya uangnya untuk apa, dia bilang untuk beli CD PS! Wah, bisa dapet buat bikin rental atuh! Tapi ternyata… ketika aku sedang beres-beres untuk balik ke Jakarta, Majid menyerahkan semua uangnya dan berkata: “ini untuk mama, untuk nambah beli rumah…” Ooh… anakku!

Lihat juga ini


About this entry