Jalan-jalan ke Banjarmasin
Setelah setahun lebih berkutat dengan kamus, kbbi, tesaurus, kbi, tesaurus lagi, kbi lagi, tesaurus lagi… akhirnya…akhir tahun ini kami diberi “hadiah” jalan-jalan…
Aku dapet bagian jalan-jalan ke Banjarmasin (bareng Mbak Dora) dan ke Lampung (bareng Mery) masing-masing tiga hari… cihuuy huuy… tapi tetep… sambil kerja! Hari gini apa sih yang gratis? Tapi, hari gini, apa sih yang ga bisa diatur… hihihi…
Ceritanya yang ke Banjarmasin dulu ya… banyak kejutan lho di sana…
Hari I:
Pesawat take off pukul 13.45 WIB, tapi aku sudah sampai di bandara sejak 12.25… maklum, udah gak sabar dari semalem… sholat dulu di bandara, terus ketemu sama Mbak Dora, check-in, n gak lama kemudian boarding… (bae lah teu make bahasa Indonesia ge, pan lagi liburan nya?). Antara Jakarta dan Banjarmasin terdapat perbedaan waktu sekitar 1 jam, karena Banjarmasin masuk Waktu Indonesia Tengah. So, dengan lama tempuh perjalanan yang sekitar 1 jam 40 menit, kami mendarat pada pukul 16.25 WITA.
Begitu keluar bandara, kami langsung dijemput oleh Pak Samsuddin dan Pak Sayuti dari Balai Bahasa Banjarmasin… serasa orang penting hihi. Dari Bandara kami langsung diajak makan, padahal sudah jam 5an… tapi sayang juga kalo ditolak :p. Karena sebelumnya Pak Sam sudah bertanya-tanya kami berasal dari mana, Jadilah kami diajak makan pempek, makanan khas daerah asal Mbak Dora. Lucu juga, makan pempek di Banjarmasin… ternyata di sana cuka pempeknya manis!! kalau mau pedas, sambal disediakan terpisah seperti kalau kita makan bakso… ooo (aneh…)
Dari sana, kami langsung diantar ke hotel di daerah Ratu Elok yang letaknya juga tidak terlalu jauh. Jalanan di kota ini sepiii bangeet… katanya sih, memang setiap hari seperti itu, hari biasa atau hari minggu, sama saja. Ternyata oh ternyata… itu kota namanya bukan Banjarmasin… tapi Banjarbaru!! Banjarbaru itu masih 35 km lagi dari Banjarmasin. Masih sepi memang, tapi katanya 2 tahun lagi bakal ramai karena ibukota Kalimantan Selatan akan pindah ke Banjarbaru.ooo (terbengong-bengong seperti orang bego)
Sampai di hotel, istirahat…tidur-tiduran…nonton tv… (hal mewah yang jarang kami dapatkan di Jakarta, di kantor, maupun di rumah) sampai waktu makan malam. Kami sudah berencana untuk mencari makanan khas Banjar malam itu, karena di hotel tidak tersedia, maka kamipun menyusuri pinggir jalan yang dipenuhi konvoi truk pengangkut batubara… demi sesuap nasi. Hingga akhirnya kami menemukan warung Amang Didi yang menjual wadai khas Banjar. Wadai dalam bahasa Indonesia berarti kue atau penganan. Ada kelepon, putu mayang, laksa, bingka berandam, lupis, apam, pais, selada ubi, dan kokoleh. Malam itu aku dan Mbak Dora mencoba laksa, penganan dari tepung beras yang diolah menyerupai mie, diberi kuah santan dan ikan aruan.. mmmm sedaaap!! tidak percuma jalan jauh… Setelah perut kami kenyang, kami kembali ke hotel, mandi, lalu tidur dengan lelap.
Hari II:
Selamat Pagi Banjar… pagi-pagi perut lapar, tapi ternyata hotel tidak menyediakan sarapan untuk kamar standar dan deluxe
bete! akhirnya kami cuma sarapan roti dan kue-kue bekal kami kemarin. Pukul 8.30 WITA kami dijemput Pak Sayuti menuju Balai Bahasa Banjarmasin. Sampai di balai kantornya masih sepi… (atau memang sudah mulai berkutat dengan pekerjaannya masing-masing jadi gak keliatan berkeliaran mungkin ya?) kami langsung disambut oleh Pak Samsuddin, dipertemukan dengan tim kosakata balai, lalu mulailah kami bekerja… lagi-lagi dengan kata dan definisi…
12.30 kerjaan selesai… sebentar saja, tapi bukan berarti tidak serius, karena kami mendapatkan banyak temuan untuk laporan kami nanti. Lagipula untuk berlama-lama bekerja perut kami tidak mungkin tahan… lapaaar. Berlima dengan Pak Sayuti, Mbak Musdalipah, dan Mbak Lela, kami makan siang di Martapura, tepatnya di Soto Anang Martapura. Menunya: Soto Banjar. Yang lain di Banjar ini, yang namanya soto selalu pakai lontong, kalau pakai nasi namanya nasi sop! Patut dicoba… dan ternyata, benar-benar lain dengan soto di Jawa, nasi dan sotonya langsung disatukan dalam satu piring… agak-agak gak biasa sih… tapi enak! Selain soto, kami juga dipesankan itik panggang… berbentuk irisan daging kecil-kecil berwarna hitam yang pinggirnya diberi saus sambal. Rasanya mengejutkan! Dagingnya manis karena sebelumnya sudah dibumbui dengan madu. ooo araraneh…
Selesai makan, kami langsung meluncur ke pusat pertokoan permata Martapura, tepatnya di pusat pertokoan Cahaya Bumi Selamat. Mau beli permata? Nggak juga, kan yang dijual disini bukan hanya permata, souvenir khas kalimantan juga ada. Toko yang pertama kami datangi adalah toko yang menjual lampit. Salah satu tujuanku ke Kalimantan dari dulu memang itu: lampit. Barang yang sejak lama diidam-idamkan oleh suamiku. Padahal di Jakarta juga ada..dasar we, pengen yang asli dari Kalimantan. Setelah lampit, berikutnya adalah oleh-oleh bernuansa batu-batuan untuk ibu-ibu dan keponakan, lalu kaos bersablon motif kalimantan untuk Majid dan Malik… Di samping pusat pertokoan tadi, ada pasar tradisional yang khusus menjual kue khas banjar, namanya Pasar Wadai Tradisional Martapura. Tapi kami tidak belanja apa-apa disana, karena kebanyakan kue basah, kalau untuk oleh-oleh mah keburu basi…
Pulang belanja gak langsung pulang dong, mampir dulu makan bakso banjar di bundaran yg tugunya sedang direhab (namanya lupa). Baksonya sih sama aja sama bakso di Jawa, rasanya juga sama, sama-sama sapi, yang beda cuma bihunnya, warnanya biru langit! Katanya memang bihun disana warnanya seperti itu… Beres ngebakso, balik ke balai, ngobrol-ngobrol, merencanakan main ke pasar terapung besok pagi, pulang ke hotel, istirahat…
Makan malam? Ga ada yang istimewa, sate madura, sama seperti sate madura-sate madura lainnya.
Hari III:
Bangun jam 3.30 WITA…hebat. Cuci muka, gosok gigi, ganti baju, terus nongkrong di lobi hotel nunggu jemputan. Pagi-pagi banget? Iya, soalnya pasar apung dimulai jam 4 pagi dan berakhir jam 6 pagi, belum lagi perjalanan ke Banjarmasin yang menempuh waktu 45 menit. Jadi ya itu tadi, jam 4 pagi sudah nongkrong di lobi. TV di ruang resepsionis menyala, tapi orangnya tidak ada, pintu lobi hotel tertutup, tapi tidak terkunci, begitu juga gerbangnya, tertutup rapat, tapi gemboknya tidak terkunci, padahal ternyata hotel ini tidak bersatpam! Sedemikian kayanya orang-orang disini mungkin ya.. aman..! ck ck ck…
Tak lama, jemputan kami pun datang, Pak Sayuti ditemani Mbak Chandra. Banjarmasin, here we come!!! Tempat yang pertama kami tuju adalah Masjid Agung, namanya Masjid Sabilal Muhtadin. Dari pengeras suara, terdengar suara orang melantunkan wirid, sepertinya sholat subuh berjamaah baru saja selesai. Kami mengambil air wudu, dari keran yang modelnya baru kali itu aku lihat, terus sholat deh… Tau gak, baru saja selesai salam, berkumandanglah bunyi iqomat!! sholat subuh berjamaahnya ternyata belum!! waduh, gimana ini? Masa sudah sholat harus sholat lagi? Mana ibu-ibu yang ada disana manggil-manggil terus biar shafnya rapat… hihihi…ada-ada aja, kirain tadi itu wirid setelah sholat.. akhirnya, dengan mengambil anggapan sholat yang kami lakukan sudah sah walaupun tidak berjamaah, pelan tapi pasti, kami keluar masjid…sambil cekikikan…
Perahu yang akan mengantar kami ke pasar apung sudah siap ketika kami sampai di sisi sungai depan masjid agung tadi. Perahunya lain dari perahu yang pernah aku naiki di Palembang. Sungainya juga tidak selebar Sungai Musi. Di kanan kiri sungai berjejer rumah-rumah yang pondasi kayunya tertanam di dasar sungai, namanya ‘lanting‘. Aktivitas MCK juga sudah terlihat di beberapa sisi rumah, menggunakan air sungai yang sama… pemandangan yang tidak biasa. Aku malah jadi teringat pada novel Dian Yang Tak Kunjung Padam karya Sutan Takdir Alisyahbana, penggambaran rumah tokoh Molek sepertinya aku temukan disini, bukan di Palembang. Awalnya kami (aku dan Mbak Dora) pikir, sungai yang kami susuri itu Sungai Barito… tidak selebar Sungai Musi tea (maklum, gagap geografi)… ternyata itu tadi hanya anak sungainya, ketika mulai memasuki Sungai Barito… Subhanallah… lebarnya…aku gak bisa ngukur deh…
Sesampainya di pasar terapung Muara Kuin, perahu kami langsung didekati oleh jokong-jokong penjual buah, sayur, dan banyak lagi, sementara aku sibuk foto-foto… Disana kami belanja jeruk (manis-manis loh jeruknya, seger lagi) dan rambutan untuk teman-teman di balai. Sementara kepalaku sudah mulai pusing, dan perutku sudah mulai mual karena mabuk, perahu kami mendekati perahu makan. Pagi itu kami sarapan di atas sungai Barito…mmm sedaaap… seharusnya… tapi berhubung mabuk, aku samasekali tidak bisa menikmati
katrok, ndeso!! putar-putar ke pulau di tengah sungai (Pulau Kembang) juga sudah tidak nyaman lagi…
Hari masih pagi ketika kami kembali ke Banjarmasin, kesibukan kota juga belum dimulai. Banjarmasin kota yang ramai, sama seperti kota-kota besar pada umumnya, bedanya, Banjarmasin dialiri oleh beberapa anak sungai Barito sehingga dijuluki sebagai kota air. Sungai merupakan sarana transportasi dan keperluan hidup masyarakat sehari-hari. Karena masih sepi, toko oleh-oleh belum buka
Pak Sayuti mengajak kami ke jembatan Barito. Letaknya lumayan jauh dari Banjarmasin, tepatnya di kabupaten Batola (Barito Kuala). Jembatan Barito ini panjangnya sekitar 1 km, menghubungkan Kalimantan Selatan dengan Kalimantan Tengah… jadi, kalau kami kemarin jalan sekitar beberapa kilometer lagi saja, kami sudah sampai di Kalimantan Tengah!
Pulang dari Jembatan Barito, kami mampir lagi di Banjarmasin, apalagi kalau bukan untuk beli oleh-oleh… ya, kapan lagi bisa ke Banjarmasin kan? Setelah urusan oleh-oleh selesai, kami kembali ke Banjarbaru, ke hotel, mandi, ngepak-ngepak, istirahat bentar. Pengennya sih tidur, mengingat kami sudah bangun sejak pukul 3.30, tapi karena sebentar lagi sudah waktunya check out, yah istirahat seadanya.
Seolah-olah belum cukup jalan-jalan kami pagi tadi, setelah check out, kami langsung diajak Pak Sayuti ke tempat pendulangan intan yang letaknya tidak terlalu jauh dari hotel, tepatnya di Kecamatan Cempaka. Kabarnya di tempat pendulangan ini pernah ada orang yang mendapatkan intan sebesar telur puyuh! Gak tau bener atau nggak. Ada juga satu dua orang yang menawarkan intan temuan mereka, baik yang belum diolah maupun yang sudah berbentuk perhiasan, tapi kami kurang tertarik… gak tau ya, sepertinya belanja di toko di martapura lebih asik, banyak pilihan…so, sebelum pulang ke Jakarta, kami ke Martapura lagi… hihi… selain oleh-olehnya ternyata masih kurang, uangnya juga masih sisa banyak… prettt. Sebelum ke Martapura, kami diajak makan siang dulu di Depot Pelangi namanya. Menunya berbagai macam ikan bakar! Wuah…makan besar ini, tamboh ciek!!
Uang sudah habis… begitupun waktu kami di Banjarbaru ini… maka kamipun berpamitan pada orang-orang Balai Bahasa Banjarmasin, berterima kasih atas pelayanannya yang luar biasa, meminta maaf atas kerepotan mereka yang telah kami sebabkan… Perjalanan ini adalah perjalanan yang sangat menyenangkan dan tidak akan terlupakan.
Wuuaaahh… tulisan yang panjang! Hope reading it won’t bored you, like writing it bored me.
6 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]