Sial, sekarang hampir semua orang memanggilku dengan sapaan “Ibu”.
“Selamat pagi, Bu.”
“Asalnya dari mana, Bu?”
“Ada yang bisa saya bantu, Bu?”
“Ibu sudah lama tinggal di sini?”
“Oh, Ibu dari sini belok kiri, terus lurus, terus kanan, terus jedotin deh kepala Ibu.” %@?!#£
Baiklah, aku memang sudah ibu-ibu, anakku sudah dua, tapi please deh… Apa mukaku sudah segitu tuanya? Apa sifat keibu-ibuanku begitu kentaranya? Apa aku tidak cukup pantas lagi disapa “Mbak”, “Teh”, “Kak”?
Memang, untuk beberapa situasi aku tidak berkeberatan disapa “Ibu”. “Ibu” adalah sapaan hormat untuk seorang wanita. Kata yang sepadan dalam bahasa Inggris untuk itu adalah “lady”, dan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Ibu” sebagai sapaan didefinisikan sebagai ‘panggilan yg takzim kpd wanita baik yg sudah bersuami maupun yg belum’. Woow panggilan takzim!
Tapi, justru karena hal itu aku belum mau dipanggil “Ibu”, rasanya belum pantas. Menjadi seorang “Ibu” dalam bayanganku berarti harus menjadi seorang wanita yang dewasa, bijaksana, halus tutur kata, rapi dan pantas dalam berbusana, merias wajahnya, dan sebagainya dan sebagainya… Sungguh beban yang sangat berat.
Hhmm, sepertinya memang sudah saatnya menjadi dewasa, bijaksana, menjaga tutur kata… Tapi untuk urusan rias-merias dan berbusana pantas… Heuheuheu… Aku masih merasa nyaman menggendong ransel, bersepatu kets teplek, masih malas berlipstik, dan malas mengikuti mode.
Duh, masih gerah dipanggil “Ibu”